Tampilkan postingan dengan label banjarbaru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banjarbaru. Tampilkan semua postingan
Minggu, 19 April 2015
PENDAFTARAN SISWA BARU TAHUN AJARAN 2015/2016
PENDAFTARAN PESERTA DIDIK BARU
TAHUN PELAJARAN 2015/2016
SMP SANJAYA BANJARBARU
WAKTU PENDAFTARAN:
1. GELOMBANG PERTAMA : 20 - 30 APRIL 2015
WAWANCARA : 8 - 23 MEI 2015
2. GELOMBANG KEDUA : 25 MEI - 6 JUNI 2015
WAWANCARA : 8 - 19 JUNI 2015
3. GELOMBANG KETIGA : 29 JUNI - 4 JULI 2015
WAWANCARA : 6 - 11 JULI 2015
PENDAFTARAN DAPAT DILAKUKAN SETIAP HARI KERJA
(PUKUL 07.30 - 13.30 WITA)
CONTACT PERSON:
SR. AGUSTINA HIA, SCMM
(HP. 081375039945)
YULIANA TRI WIYANTI, S.PD
(HP. 081351751722)
Senin, 09 Maret 2015
LIVE IN PASTOR DAN BRUDER TOPTEN MSF DI PAROKI BUNDA MARIA BANJARBARU
Berkobar Bersama
Semangat Pater Berthier
“Janganlah kamu sekalian lupa bahwa penghargaan serta cinta kasih satu sama lain lebih penting daripada segala aturan Konstitusi, dan tiap-tiap aturan maupun setiap kaul bermaksud mengobarkan dalam hati para anggota, cinta kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia. Oleh karena itu, patutlah kamu sedapat-dapatnya dahulu mendahului saling memberi hormat, tetap sehati sejiwa, bekerjasama saling membantu, saling menghibur dalam kesusahan, dan membesarkan hati satu sama lain, serta saling mendorong.” (Konstitusi 1895, no.15. Pembukaan Konstitusi 1895)
Ungkapan Pater Berthier, MS (Pendiri Kongregasi
MSF) di atas sungguh-sungguh terejawantahkan selama 4 hari berturut-turut (30
Oktober – 2 November 2014), dimana Laskar Muda Berthier yang tergabung dalam
barisan TOPTEN MSF mengadakan live in di Paroki Bunda Maria Banjarbaru. Hadir
dalam kegiatan rutin ini sebanyak 8 orang imam, 2 orang bruder dan 4 orang
frater TOP-er yang dikoordinir oleh Pastor Yohanes Kopong Tuan, MSF.
Animasi dan Promosi Panggilan
Pada hari Sabtu, sejak pukul 09.00 WITA, para pastor dan bruder MSF yang mempunyai usia tahbisan di bawah 10 tahun (TOPTEN) hadir di lingkungan SD dan SMP Sanjaya Banjarbaru. Kehadiran para biarawan dengan penampilan khas mengenakan jubah menjadi ciri khas tersendiri yang mampu menarik perhatian pada siswa SD maupun SMP yang mengikuti animasi dan promosi panggilan.
Dalam kelas-kelas yang telah ditentukan,
masing-masing kelompok siswa didampingi oleh 2 hingga 3 orang biarawan MSF yang
menyampaikan materi “The Seven Habits” yang diselingi dengan sharing
seputar panggilan menjadi pastor, frater, bruder maupun suster. Kegiatan
berlangsung riang gembira karena materi yang disampaikan juga dibumbui dengan
sesi menyanyi bersama. Bahkan saat para siswa dan biarawan MSF menggelar acara
di lapangan, suasana makin disemarakkan oleh aneka permainan, tarian, yel-yel
dalam balutan kompetisi antar kelompok yang seru.
Dalam kelompoknya masing-masing, para siswa mendapatkan penjelasan perihal sejarah berdirinya Kongregasi MSF hingga berbagai macam negara dan benua yang menjadi medan karya pewartaan Injil oleh para misionaris MSF di masa kini. Kesan akrab penuh rasa kekeluargaan pun berhasil diciptakan dalam waktu sekejab. Terbukti, antusiasme semua yang terlibat dari satu sesi ke sesi berikutnya tak dapat dibendung, seolah tak kenal lelah meskipun matahari semakin meninggi di angkasa. Sungguh, semangat Pater Berthier yang dikenal sebagai “Misionaris Tanpa Kenal Lelah” benar-benar terwujud nyata dan dialami oleh semua.
Dalam sebuah perbincangan, Pastor Fransiskus Iwan Yamrewav, MSF bertutur bahwa kegiatan TOPTEN seperti ini menjadi agenda rutin yang selalu diselenggarakan lebih dari sekali setiap tahunnya. Menurut Pastor Iwan, gerakan TOPTEN adalah sebuah bentuk kerasulan integratif yang dilakukan oleh para pastor dan bruder MSF Provinsi Kalimantan dengan usia tahbisan atau kaul kekal sepuluh tahun ke bawah.
Usai santap siang bersama, Pastor Kopong, MSF mewakili seluruh biarawan yang hadir mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Sanjaya atas pengalaman bersama yang terasa berkesan.
Malam
harinya digelar acara MSF Talk Show dengan tema: “Pandangan Gereja
terhadap Perilaku Penyimpangan Seksualitas,” dengan pembicara Pastor Iwan
Yamrewav, MSF. Acara ini dihadiri oleh OMK dari 5 paroki kota (Katedral, Kelayan, Veteran, Banjarbaru
dan Pelaihari).
Para pastor, bruder maupun frater MSF selama 4 hari
berturut-turut tinggal di rumah-rumah umat secara tersebar di beberapa wilayah
maupun stasi dalam lingkup Paroki Bunda Maria Banjarbaru. Kegiatan yang
diadakan pun beraneka ragam, diantaranya: katekese, ibadat lingkungan dan lain
sebagainya; yang kesemuanya itu bertujuan untuk semakin mengenalkan sekaligus
memperdalam iman Kekatolikan umat yang dikunjungi.
Pada hari Minggu, 2 November 2014, digelar Perayaan
Ekaristi secara serentak baik di Paroki Bunda Maria Banjarbaru maupun di Stasi
St. Yohanes Pemandi Landasan Ulin pada pukul 08.00 WITA yang dipersembahkan
oleh para pastor TOPTEN. Siang harinya menjelang pukul 11.00 WITA rombongan
biarawan TOPTEN melakukan ziarah ke makam Katolik di km.24 dan berkunjung ke
Taman Makam Katolik St. Yoseph untuk menabur bunga di pusara Mgr. Joannes
Groen, Vikaris Apostolik Banjarmasin yang pertama.
[reported &
foto by: Dionisius Agus Puguh Santosa]
Label:
banjarbaru,
BANUA KITA,
KALIMANTAN SELATAN,
KALSEL,
keuskupan banjarmasin,
KOTA IDAMAN,
PENDIDIKAN,
PUSAT PEMERINTAHAN KALSEL,
SMP KATOLIK,
smp sanjaya
PROFIL SISWA BERPRESTASI
ALODIA DIASMARA PRAMESWARI
Terus Berprestasi di Usia Belia
Bagi gadis-gadis seusianya, menjelajahi
enam negara di Eropa di usia belasan tahun mungkin ibarat mimpi di siang
bolong. Namun pengalaman ini telah dialami oleh Alodia Diasmara Prameswari yang
akrab dipanggil “Dias”. Meskipun negara Belanda, Italia, Swiss dan Perancis
sudah disambanginya; ternyata Dias tetap terobsesi untuk bisa menginjakkan kaki
di Spanyol. Pengalaman istimewa lainnya adalah berlibur bersama keluarga
tercinta ke Malaysia, Singapura, Hongkong dan Thailand.
Putri pasangan Aloysius Suparno dan
Lucia Prihatini Wirasati ini dilahirkan di Banjarmasin pada tanggal 10 Mei
2000. Ramah, rendah hati dan murah senyum; demikianlah Dias dikenal oleh dalam
kesehariannya. Meskipun usianya baru 14 tahun, tetapi sederetan prestasi telah
mampu ditorehkannya.
Saat ini Dias tercatat sebagai siswi
kelas IX SMP Sanjaya Banjarbaru. Semenjak duduk di bangku SD, ia telah akrab
dengan alat musik piano. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, Dias berhasil
mengkoleksi sederet piala yang kini tampak menghiasi salah satu lemari pajangan
di kediamannya. Untuk mengasah kemampuannya dalam bermain piano, Dias mengikuti
les di sekolah musik Ardeval Swara Music Banjarbaru sejak kecil.
Secara rutin sekolah musik yang namanya
cukup terkenal di Banjarbaru ini menggelar even tahunan bertajuk “Recital Piano Classic”. Di ajang
bergengsi inilah Dias selalu berhasil menyabet piala, namun hal itu tidak
menjadikannya tinggi hati.
Pada tahun 2009, juara ke-2 Performance
dalam ajang Recital Piano Classic disematkan kepadanya. Setahun kemudian juara ke-3
Performance kembali dipercayakan kepadanya. Di tahun 2013, tiga buah piala dari
ajang kompetisi yang sama berhasil diborongnya, yaitu: juara pertama Kostum
Wanita, juara harapan pertama Performance Tingkat Senior, dan juara ke-3
Favorite. Sedangkan pada tahun 2014 ini Dias tercatat sebagai peserta Piano
Concert Ardeval Swara Music di Q-Mall Banjarbaru dan juara pertama Favorite even
Piano Concert Ardeval Swara Music di Lapangan Murdjani Banjarbaru.
Selain berhasil meraih berbagai piala
dalam acara konser piano ini, Dias juga pernah terlibat dalam ajang Young
Musician di tahun 2011. Bahkan saat masih duduk di bangku SD, ia pernah menjadi
juara ke-2 Lomba Cerita Bergambar dalam ajang FLS2N. “Senang dan bangga!” ucapnya sembari tersenyum.
Di sekolahnya, Dias dipercaya menjadi
salah satu mayoret Marching Band SMP Sanjaya Banjarbaru. Ia telah unjuk
kebolehan beberapa kali di Lapangan Murdjani Banjarbaru dalam beberapa even
bergengsi. Pada bulan Mei 2014 yang lalu, Dias dipercaya sebagai Gitapati yang
bertugas memimpin sekitar 45 personil marching band sekolahnya dalam Kejuaraan
Drum Band dan Marching Band “Gubernur Cup 2” di Banjarmasin.
Gadis bertinggi badan 157 cm dan
memiliki berat badan 56 kg berfilosofi bahwa persabatan antar sesama teman harus
dijalin dengan sebaik mungkin. Baginya, figur teman seperti saudara kandung, “Janganlah kita saling merendahkan satu sama
lain,” ucapnya bijak.
Dias yang mempunyai hobi menggambar,
basket, main alat musik drum, dan menyanyi ini bercita-cita menjadi seorang
animator handal di perusahaan film Disney di masa mendatang. Bersama grup vokal
“Gracia Voice”, Dias telah menelurkan satu album rekaman sekaligus tampil live performance dalam beberapa acara
penting.
[Dionisius Agus Puguh Santosa; 23/11/2014; 08:53 am]
Label:
banjarbaru,
BANUA KITA,
KALIMANTAN SELATAN,
KALSEL,
keuskupan banjarmasin,
KOTA IDAMAN,
PENDIDIKAN,
PUSAT PEMERINTAHAN KALSEL,
SMP KATOLIK,
smp sanjaya
LIMA TAHUN KELAS JURNALISTIK SMP SANJAYA BANJARBARU
Melangkah Bersama di Usia Kelima
Oleh : Dionisius Agus Puguh Santosa,
SE
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa dunia jurnalistik (atau kegiatan jurnalisme) pada umumnya adalah suatu hal yang abstrak atau sulit untuk dipahami. Sebuah pepatah dalam bahasa Latin berujar, initium semper dificile est (segala sesuatu pada awalnya sulit). Memang tak dapat dipungkiri, melibatkan anak-anak dalam dunia jurnalistik (yang notabene masih belia) tidaklah mudah.
Saat kita pergi ke toko buku, mungkin kita pernah melihat ada begitu banyak
judul buku yang terkait dengan dunia jurnalistik. Beberapa buku tampak begitu
tebal, dan ketika kita mencoba membacanya, barangkali kita akan menemukan
banyak istilah dan penjelasan seputar dunia jusnalistik yang sulit untuk
dimengerti bahkan terdengar begitu asing di telinga. Sedangkan beberapa buku
lainnya mempunyai penampilan tipis dengan isi yang sangat ringan, yang
lagi-lagi menimbulkan pertanyaan, “Apakah
dengan mempelajari buku tersebut, pemahaman kita tentang dunia jurnalistik akan
terpenuhi?” Bisa jadi kita bertanya demikian karena kita menilai bahwa isi
buku itu kurang memadai atau kurang sesuai dengan harapan kita.
Kisah di atas adalah pengalaman pribadi saya beberapa tahun silam. Awalnya
saya diminta oleh Ibu Endah Wulandari, M.Pd (Kepala Sekolah SMP Sanjaya Banjarbaru pada waktu
itu) untuk mengajar dan membimbing kegiatan jurnalistik di SMP Sanjaya
Banjarbaru. Sebagai calon guru pembimbing jurnalistik di sekolah menengah pertama,
saya merasakan betapa tidak mudahnya menemukan buku panduan yang cocok untuk
anak-anak usia belasan tahun.
Beberapa buku pada sampul depannya memang berlabel “untuk anak-anak”, akan
tetapi setelah saya baca lebih lanjut, apa yang dipaparkan tidak serta merta mudah
disampaikan kembali kepada anak-anak yang saya dampingi. Ternyata perlu banyak
penyesuaian di sana-sini, perlu banyak improvisasi di setiap kesempatan, juga
banyak permenungan yang menyadarkan saya dari hari ke hari, demi menjawab sebuah pertanyaan: “Apakah ilmu jurnalistik yang saya ajarkan
menjadi sesuatu yang menyenangkan atau membosankan bagi anak-anak?
Atau justru menjadi ilmu yang abstrak dan sulit dipahami oleh dunia anak-anak
yang mempunyai kompleksitas unik dan kekhasan warna di dalamnya?” Pertanyaan yang senada dengan pernyataan di awal tulisan ini.
Kelas jurnalistik yang kemudian saya beri nama “Sanjaya Journalist Class”
memang cukup akrab di telinga siswa-siswi SMP Sanjaya Banjarbaru lima tahun
terakhir ini. Kelas ini memulai aktivitas perdananya
pada tanggal 1 Agustus 2009 dengan melibatkan 16 orang siswa. Ketika itu kelas ini dibuka untuk siswa kelas VII dan
VIII yang berminat dalam bidang jurnalistik (kewartawanan/menulis berita).
Dalam kegiatannya, anak-anak yang berminat dalam dunia jurnalistik belajar
bersama untuk menjadi seorang calon jurnalis; dengan harapan di masa mendatang
mereka ini akan menjadi penulis-penulis produktif pada jamannya (dapat
menghasilkan karya secara terus-menerus).
Kegiatan kelas jurnalistik yang saya dampingi bukan hanya sebatas menulis
saja, mereka juga belajar teknik fotografi sederhana (minimal bisa memotret
dengan baik), lalu juga belajar melakukan wawancara dengan tokoh atau
narasumber berita. Memang, selama lima tahun terakhir belum banyak prestasi
yang bisa dicapai. Karya rutin mereka barulah sebatas menghasilkan “mading”
(majalah dinding) sekolah yang hingga kini telah terbit dalam beberapa edisi.
Saya merasa seperti bermimpi ketika menyaksikan anak-anak itu dapat menulis
dengan baik, seolah-olah mereka bukan lagi anak-anak SMP, melainkan lebih mirip
dengan anak-anak SMA, yang tulisannya terasa luas berkisah dan detil dalam
pemaparan alurnya. “Luar biasa!” seru saya membatin.
Sebagai seorang penulis, saya sendiri mempunyai pengalaman yang cukup
banyak dan beraneka warna. Untuk membuat selembar tulisan saja, saya dapat
menghabiskan waktu seharian penuh, bahkan ada tulisan yang baru terselesaikan
setelah menghabiskan waktu selama beberapa hari bahkan beberapa bulan untuk
sebuah buku.
Semoga perasaan haru dan sukacita yang hadir dalam kelas pengembangan diri
“Sanjaya Journalist Class” dapat terus berlangsung dan saya alami bersama
dengan anak didik saya di tahun-tahun mendatang. Sebuah kelas yang bisa
dikatakan kecil namun di dalamnya tersimpan sejuta harapan, harapan tentang
lahirnya penulis-penulis handal Indonesia di masa depan.
Penulis adalah Guru Pembimbing “Sanjaya Journalist Class”
SMP Sanjaya Banjarbaru – Kalimantan
Selatan
Label:
banjarbaru,
BANUA KITA,
KALIMANTAN SELATAN,
KALSEL,
keuskupan banjarmasin,
KOTA IDAMAN,
PENDIDIKAN,
PUSAT PEMERINTAHAN KALSEL,
SMP KATOLIK,
smp sanjaya
PEKAN KEKERABATAN X MAJELIS NASIONAL PENDIDIKAN KATOLIK
Indahnya Pelangi Nusantara
di Coban Rondo
Bumi
Perkemahan di Wana Wisata Coban Rondo, Kecamatan Pujon, Malang – Jawa Timur
menjadi saksi digelarnya Pekan Kekerabatan X Majelis Nasional Pendidikan Katolik,
19 – 26 Juni 2014. Tercatat 7 Keuskupan Agung (Jakarta, Semarang, Palembang,
Ende, Kupang, Pontianak), 8 Keuskupan (Malang, Denpasar, Tanjung Karang,
Surabaya, Bandung, Bogor, Purwokerto, Palangkaraya, Banjarmasin) dan 3
Kevikepan (Daerah Istimewa Yogyakarta, Kedu, Surakarta) melalui TKK MPK (Tim
Kerja Kepramukaan Majelis Pendidikan Katolik) masing-masing ikut berpartisipasi
di dalamnya.
Tercatat 2619 orang pramuka penggalang, didampingi oleh para pembina pendamping, tim service, pramuka penegak serta panitia bergulat dengan beragam kegiatan selama 8 hari berturut-turut tanpa kenal lelah. Kelompok-kelompok regu penggalang tersebut dibagi ke dalam 5 kampung (Nebo, Sinai, Golgota, Tabor dan Karmel) untuk memudahkan koordinasi dalam pelaksanaan berbagai kegiatan di lapangan.
Pekan
Kekerabatan (PK) adalah minggu kekerabatan antar pramuka penggalang untuk
saling belajar, berbagi, menumbuhkan sikap persaudaraan dan persahabatan di
bawah naungan Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK). Dalam pelaksanaan PK
X kali ini mengusung tema: “Satu dalam Keberagaman.” Tema ini dipilih untuk
menumbuhkan kesadaran bahwa kita semua adalah satu walaupun berbeda-beda; baik
suku, agama, dan bangsa. Dimana tujuan kegiatan ini adalah agar para peserta
lebih mencintai alam, mengerti pentingnya lingkungan hidup dan menumbuhkan
semangat untuk memeliharanya, sehingga dapat semakin mendekatkan diri dengan
Sang Pencipta. Adapun PK dilaksanakan setiap 2 tahun sekali untuk pramuka
golongan penggalang, penegak dan pembina secara bergantian.
Ranting tidak Bisa
Lepas dari Pokoknya
Kegiatan PK X diawali dengan Misa Pembukaan pada hari Kamis, 19 Juni 2014 pukul 16.00 WIB yang dipimpin oleh Vikjend Keuskupan Malang RD. J.C. Eko Atmono didampingi oleh 12 imam, dengan iringan koor dari SMP Cor Jesu Malang.
Dalam
homilinya Pastor Eko berkisah tentang ranting yang harus selalu bergantung
kepada pokoknya. “Ada satu ketergantungan
bahwa ranting tidak bisa lepas dari pokoknya. Begitu pula buah kelapa yang juga
jatuh dari pohonnya; dimana buah kepala itu bisa bermanfaat karena tumbuh dari
pohon asalnya.”
Pastor
Eko menyampaikan dalam perumpamaan indah tentang pohon kelapa yang pelit,
karena hampir seluruh bagiannya bermanfaat. Berkaitan dengan lambang Gerakan
Pramuka yaitu tunas kelapa, Pastor Eko menegaskan pentingnya peranan anggota
pramuka sebagai insan-insan yang siap diutus untuk menjadi tunas-tunas yang
siap tumbuh menjadi pohon dewasa. Di bagian lain homilinya, Pastor Eko
mengingatkan agar sebagai anggota Gerakan Pramuka kita mampu menunjukkan bukti
kelekatan ranting dengan pokoknya, dengan jalan menciptakan persaudaraan dan
kesatuan hati di dalam naungan kasih Tuhan.
Setelah
Misa Pembukaan, para peserta PK X disambut dengan upacara penerimaan di sub camp / kampung masing-masing. Malam
harinya, dalam dekapan udara dingin khas Coban Rondo, semua peserta disuguhi welcome party di lapangan utama. Dalam welcome party ini berbagai macam
warna-warni budaya Nusantara dipentaskan, salah satunya adalah Tari Topeng
Bapang dari Malang dengan iringan gamelan secara live.
Membangun Karakter
Para Peserta
Pada hari kedua, Jumat, 20 Juni 2014, sejak pukul 07.00 WIB, seluruh kontingen dari 18 TKK MPK/BKS telah berbaris rapi di lapangan utama untuk mengikuti upacara pembukaan PK X. Tepat pada pukul 08.00 WIB rombongan Kakwarnas tiba di lokasi upacara dan disambut oleh Ketua TKK MNPK Antonius Daud dan jajarannya dalam iringan alunan gamelan khas Bali persembahan Kontingen TKK MPK Keuskupan Denpasar. Selanjutnya masing-masing kontingen melakukan defile di depan panggung utama sembari mempertunjukkan atraksi khas daerahnya masing-masing.
Dalam
laporan singkatnya, Ketua Umum PK X Dionisius Endik menuturkan bahwa kegiatan
PK X ini berbentuk jambore yang dilaksanakan oleh TKK MPK Keuskupan Malang
selaku panitia penyelenggara dengan rekomendasi dari Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka. “Melalui kegiatan ini diharapkan
karakter peserta dapat terbangun, dan para pembina dapat menimba pengalaman
daripadanya.”
Ketua
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault diawal sambutannya
mengungkapkan bahwa pengalaman yang diperoleh oleh para peserta PK X kali ini
di masa mendatang akan menjadi sebuah kenangan yang indah. Adhyaksa Dault
mengingatkan semua peserta agar menjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia) sebagai rumah tinggal bersama.
Di
bagian lain sambutannya, Adhyaksa Dault memberikan apresiasi positif dan pujian
terhadap keberadaan lembaga pendidikan Katolik di Indonesia. “Saya salut, sejak dahulu MNPK yang menaungi
lembaga-lembaga pendidikan Katolik di Indonesia selalu mengutamakan disiplin
dan hal ini patut kita contoh.”
Adhyaksa
Dault yang pernah menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga dalam Kabinet
Indonesia Bersatu (2004-2009) berpesan kepada semua yang hadir agar tidak
menjadi orang yang sombong. “Kalian
jangan pernah menjadi orang yang sombong, karena kesombongan adalah awal dari
bencana besar di dunia ini. Jadikanlah tanda jasa yang kalian terima sebagai
motivasi, dan kikislah sifat sombong dalam diri kalian masing-masing.”
Setelah
rombongan Kakwarnas meninggalkan panggung utama, acara defile kembali
dilanjutkan hingga pukul 12.00 WIB. Usai makan siang, para peserta PK X di
masing-masing kampung melaksanakan kegiatan yang bertajuk ‘Kehidupan Kampung.’
Dalam kegiatan ini para peserta diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan
pribadi dan juga korve. Sore harinya pada pukul 17.00 WIB diselenggarakan Misa
di setiap kampung.
Pentas Budaya hingga
Festival Kuliner Nusantara
Sejak malam kedua, setiap pukul 19.00 WIB selalu digelar Pentas Budaya Nusantara di panggung utama. Pada tanggal 20 Juni 2014, tampil kontingen Palembang, Palangkaraya, Bandung, Kedu dan Purwokerto. Pada malam berikutnya kontingen Tanjungkarang, Banjarmasin, Bogor dan Semarang berhasil mengguncang panggung dengan atraksi kebanggaan setiap kontingen.
Pada
tanggal 22 Juni 2014 panggung utama diisi penampilan dari kontingen Jakarta,
DIY dan Ende. Sedangkan pada tanggal 23 Juni 2014, lima kontingen tampil secara
berurutan, yaitu: Kupang, Surabaya, Surakarta, Denpasar dan ditutup dengan
penampilan dari Pontianak.
Selain
itu, sejak Jumat siang, 20 Juni 2014, di Market
Area juga digelar Festival Kuliner Nusantara yang menjadi salah satu acara
yang ditunggu-tunggu oleh para peserta PK X kali ini, sebab melalui kegiatan
tersebut para peserta dapat mencicipi makanan khas dari berbagai daerah secara
cuma-cuma seraya belajar kesenian khas dari beberapa daerah peserta PK X.
Stand
TKK MPK Keuskupan Bandung menyajikan peuyeum
(tape singkong), sedangkan stand TKK MPK Keuskupan Malang menampilkan
pertunjukan gamelan dan melibatkan para pengunjung untuk menarikan tari topeng Grebeg Sabrang, yang akan ditarikan
secara massal pada acara penutupan PK X.
Stand
TKK MPK Keuskupan Agung Ende menyuguhkan makanan khas yang terbuat dari gula,
tepung beras dan kelapa yang bernama rebok
dengan rasa yang gurih. Selain itu ada juga sambal khas Flores yang terbuat
dari campuran biji wijen dan cabe kering yang ditumbuk halus dan berwarna
kecoklatan.
Stand
TKK MPK Keuskupan Denpasar banyak menarik perhatian pengunjung dengan makanan
khasnya yang bernama iwel, berbentuk
persegi panjang dan terbuat dari ketan hitam. Sedangkan stand Keuskupan Agung
Palembang menyajikan pempek, kue engka, krupuk kemplang dan kue matsuba.
Mengasah Diri dalam
Kegiatan Hiking dan Bivac
Utusan dari setiap regu yang berada dalam wilayah Kampung Golgota mendapat kesempatan pertama ini mengikuti kegiatan hiking dan bivac pada Jumat sore, 20 Juni 2014. Kegiatan hiking dilaksanakan dengan melakukan pendakian di Gunung Panderman yang terletak pada ketinggian 2.045 mdpl.
Pada
pukul 17.30 WIB para peserta mulai meninggalkan areal perkemahan menuju ke
lereng Gunung Panderman. Di titik keberangkatan para peserta mendapatkan
pembekalan dari pihak panitia maupun pembina sembari beristirahat sejenak. Dan
tepat pada pukul 18.30 WIB kegiatan pendakian pun dimulai. Para peserta
terlihat begitu bersemangat, meskipun medan yang harus dilalui cukup berat dan
menguras tenaga.
Sedangkan
kegiatan bivac diselenggarakan di jogging track kawasan Coban Rondo pada
waktu yang hampir bersamaan. Dalam kegiatan ini, para peserta diberikan
pembekalan untuk dapat bertahan hidup di alam terbuka, dengan memanfaatkan
segala sarana yang ditemukan di sekitarnya. Di areal basecamp, para peserta bivac
diajari membuat tenda darurat dengan memanfaatkan jas hujan, memasak nasi
dengan mempergunakan bambu dan buah kelapa; juga mendapatkan materi bela
negara.
Keesokan
harinya, sekitar pukul 08.00 WIB para peserta hiking maupun bivac telah
kembali ke bumi perkemahan Coban Rondo untuk mengikuti kegiatan selanjutnya.
Dan pada hari-hari selanjutnya, kedua jenis kegiatan ini tetap berlangsung dan
diikuti oleh para peserta dari setiap kampung secara bergiliran sesuai dengan
jadwal yang telah disusun panitia.
Melihat
Keanekaragaman Satwa di Eco Green Park dan Jawa Timur Park 2
Penghuni
Kampung Sinai mendapatkan giliran pertama untuk berwisata ke Eco Green Park dan
Jawa Timur Park 2 pada hari Sabtu, 21 Juni 2014. Dua tempat wisata ini menjadi
andalan Kota Batu – Malang.
Setibanya
di Eco Green Park, para peserta disambut dengan replika beragam candi
bersejarah di Pulau Jawa dan Bali yang dapat memberikan wawasan betapa agungnya
peradaban masa silam sekaligus menjadi wahana studi budaya Nusantara lama.
Kelengkapan
aneka satwa dari berbagai penjuru dunia menjadi nilai plus keberadaan obyek
wisata ini, diantaranya beragam mammalia, reptil, burung, ikan dan hewan
amphibi. Bahkan para peserta diberikan kesempatan untuk berfoto bersama burung
elang, burung enggang dan beberapa jenis burung langka lainnya.
Sedangkan
di Jawa Timur Park 2, para peserta mengunjungi pasar seni yang menjual aneka
macam souvenir khas Malang, melihat berbagai jenis binatang, juga dimanjakan
dengan berbagai wahana permainan, diantaranya: horror house, tsunami dan flying
octopus. Kunjungan berlangsung hingga pukul 16.00 WIB, sebelum akhirnya
para peserta kembali ke Coban Rondo.
Scouting
Challenge (Tantangan
Kepramukaan) dan Scouting Skill
(Teknik Kepramukaan)
Semua regu yang tergabung dalam wilayah Kampung Karmel mendapat kesempatan perdana untuk mengikuti kegiatan Scouting Challenge dan Scouting Skill pada hari Sabtu, 21 Juni 2014. Sebelum diberangkatkan ke lokasi kegiatan, para peserta dibagi ke dalam dua kelompok besar untuk mengikuti masing-masing jenis kegiatan secara bergantian. Kedua kegiatan ini digelar di lokasi yang berbeda sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Setelah istirahat dan makan siang, kegiatan yang sama kembali digelar mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.
Dalam Scouting Challenge, para peserta diharuskan melewati 6 pos ketrampilan yang meliputi: Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), tali-temali, halang rintang, sandi, menaksir dan kompas. Sedangkan pada arena Scouting Skill pada peserta diajak bermain sembari belajar aneka tantangan kepramukaan, diantaranya: permainan egrang, panahan, paser, prusik (memanjat seutas tali), karapan kuda, mini wall climbing.
Ceramah Lintas Agama,
Satuan Karya (SAKA) dan Global
Development Village
Untuk
memberikan wawasan tentang keanekaragaman agama di Indonesia, panitia PK X
menggelar ceramah lintas agama yang harus diikuti oleh seluruh peserta secara
bergiliran sesuai dengan kampung masing-masing. Dalam kesempatan ini, terdapat
3 stand yaitu stand agama Katolik, agama Islam, dan agama Hindu.
Selain itu, dalam rangka mempersiapkan para pramuka penggalang untuk memasuki jenjang penegak, panitia memberikan pengetahuan tentang aneka macam SAKA (Satuan Karya) yang ada, antara lain: Saka Dirgantara, Saka Wana Bakti, Saka Bhayangkara dan Saka Bahari, ditambah materi khusus dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
Sedangkan
pada wahana Global Development Village,
para peserta diajak untuk memahami berbagai isu tentang lingkungan hidup
melalui demonstrasi teknologi ramah lingkungan. Pada stand-stand yang ada, para
peserta secara berkelompok belajar mengenai tatacara pembuatan kompos, membuat
kreasi seni dari media sampah rumah tangga, membuat wayang suket (bahan rumput
kering) dan mengenal teknik pemurnian air secara sederhana. Di bagian lain,
peserta juga diajari cara membuat boneka flanel, scarpbook wayang dan teknik robotik sederhana.
Surga Air, Aksi
Sosial dan Sembako Murah
Desa
Pandesari, Kecamatan Pujon, menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan aksi sosial dan
penjualan sembako murah. Dalam aksi sosial, para peserta melakukan kegiatan
kebersihan di sekitar lingkungan desa setempat. Sedangkan penjualan sembako
murah dilakukan di balai desa dan ditujukan bagi warga desa melalui penukaran
kupon yang sebelumnya telah dibagikan oleh pihak panitia PK X. Selain itu, dilakukan
pembagian pakaian layak pakai dan buku-buku bekas secara gratis kepada warga
desa yang berminat.
Usai
beristirahat siang, para peserta kemudian dibawa ke lokasi Surga Air di kawasan
Songgoriti. Di sini setiap regu disatukan ke dalam kelompok-kelompok kecil
untuk mengikuti beberapa jenis game
di beberapa lokasi yang berbeda, antara lain: mendayung, bridge, rakit ban dan water
tank. Meskipun cuaca cukup dingin, namun tidak mengurangi antusiasme para
peserta untuk bermain dengan air melalui aneka macam game yang digelar.
Sulawesi dan Papua
Diharapkan Bergabung Pada PK Selanjutnya
Pada
hari Rabu sore, 25 Juni 2014 digelar Misa Penutupan pada pukul 17.00 WIB yang
dipimpin oleh RP. Yuki Hartadi, CDD selaku Ketua MPK Keuskupan Malang,
didampingi oleh 12 orang pastor. Malam harinya digelar pentas budaya nusantara,
dan ditutup dengan tarian massal Grebeg Sabrang yang diikuti tak kurang dari
3.000 orang para peserta PK X. Setelah gamelan berbunyi, para peserta PK X
segera mengenakan topeng masing-masing dan langsung mengikuti lemah gemulai
gerakan tarian ini. Adegan ini hendak menggambarkan barisan prajurit atau
pasukan yang berangkat menunaikan titah sang raja, ibarat pramuka yang harus
menjalankan titah dengan mengamalkan Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka.
Pada hari Kamis, 26 Juni 2014, tepat pada pukul 08.00 WIB dimulai defile dari masing-masing kampung yang dilanjutkan dengan upacara penutupan kegiatan PK X. Dalam sambutan singkatnya, Antonius Daud selaku Ketua TKK Majelis Nasional Pendidikan Katolik memberikan apresiasi hangat atas terselenggaranya PK kali ini, dimana pada pelaksanaan kali ini telah mampu menjangkau wilayah Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur. “Saya berharap, dalam pelaksanaan Pekan Kekerabatan selanjutnya, peserta dari wilayah Sulawesi dan Papua dapat bergabung,” ucap Antonius Daud sesaat sebelum melakukan pemukulan gong tanda berakhirnya PK X secara resmi.
Pada
tahun 2016 mendatang, TKK MPK Keuskupan Agung Semarang mendapat mandat untuk
melaksanakan Temu Pembina III, sedangkan pada tahun 2018 TKK BKS Kevikepan
Surakarta menjadi tuan rumah pelaksanaan PK XI yang diikuti oleh pramuka
golongan penegak.
[reported & foto by: Kak Dionisius Agus
Puguh Santosa]
Label:
banjarbaru,
BANUA KITA,
KALIMANTAN SELATAN,
KALSEL,
keuskupan banjarmasin,
KOTA IDAMAN,
PENDIDIKAN,
PUSAT PEMERINTAHAN KALSEL,
SMP KATOLIK,
smp sanjaya
KEPALA SEKOLAH, GURU & KARYAWAN SMP SANJAYA BANJARBARU
KEPALA SEKOLAH, GURU & KARYAWAN
Sr. Agustina Hia, SCMM, S.Pd
Endah Wulandari, M.Pd
Yuliana Triwiyanti, S.Pd
Jhon Berson Simanjutak, S.Pd
Triseha Triwinarni, S.Pd
Yuliette
Fransiska Ariati, S.Hut
M. Hasan Tarigan
Nicolaus Naga
Floribertus Riwi
Sadriansyah
Merry Susilawati, S.Pd
Rosita Alexia Keo, S.Pd
Ima Asmaria Purba, S.Pd
Dionisius Agus Puguh Santosa, SE
Rudi Dominggus
Yohanes Ciptadi
Susilawaty Tamba
Label:
banjarbaru,
BANUA KITA,
KALIMANTAN SELATAN,
KALSEL,
keuskupan banjarmasin,
KOTA IDAMAN,
PENDIDIKAN,
PUSAT PEMERINTAHAN KALSEL,
SMP KATOLIK,
smp sanjaya
Langganan:
Komentar (Atom)


























